Minggu, 26 April 2026

Keris Dhapur Tebu Saoyotan, Sederhana namun kaya filosofi.

Keris ber-luk 3 yg umum di sebut Jangkung, namun untuk yg 1 ini lebih spesifik

Keris luk 3 Dhapur jangkung tebu saoyotan












Filosofi Keris luk 3  sangat erat kaitannya dengan tercapainya harapan, Perlindungan, dan hal khusus yg berhubungan dengan Jiwa serta Rasa. 

Namun dari berbagai macam jenis keris luk 3, Sang Empu menciptakan maha karya keris luk 3 dengan dhapur "tebu saoyotan" 

Seperti yg telah di sampaiken di awal terkait filosofi keris luk 3, pastinya "tebu saoyotan" sendiri juga memiliki makna yg mendalam. 

"tebu"  sendiri merupakan tumbuhan yg ber-ruas, dimana tiap ruasnya mengandung sari yg manis.

"saoyotan" dari kata dasar oyot (akar), Bisa dimaknai seakarnya, 

Potongan / satu ruas tebu sendiri ketika menyentuh tanah, akan tumbuh akar dan bersemi tunas baru hingga dapat tumbuh menjulang kembali.

Dari sedikit penjelasan di atas, tersirat pesan mendalam akan 3 hal mendasar (kelahiran, jodoh, kematian) merupakan ketetapan Yang Maha Kuasa, kita sebagai manusia hendaklah menyadari batasan2.












Pohon tebu melambangkan diri kita sebagai manusia yg memiliki cita2 / harapan, memohon lilah dari Sang Pencipta agar senantiasa di lindungi dlm berproses, serta hasilnya (manisnya) seperti sari tebu, dapat dinikmati oleh orang2 di sekitarnya.

ketika mengalami halangan/ujian dlm berproses, harapannya selalu memperoleh kemudahan / jalan keluar sehingga masalah2 dapat di selesaikan tuntas hingga seakar2nya, 

dan hendaknya tidak mudah berputus asa dan dapat segera bangkit kembali, seperti potongan ruas tebu yg menyentuh tanah akan tumbuh akar dan bersemi kembali.












Wallahualam bissawab.

Rabu, 03 Desember 2025

Pesona Candi Cetho

Candi Ceto adalah sebuah candi bercorak Hindu yang terletak di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini unik karena arsitekturnya yang menyerupai punden berundak, sebuah warisan budaya dari zaman prasejarah.

Candi ini juga dikenal dengan keindahan pemandangannya, terletak di ketinggian sekitar 1.400 mdpl yang menawarkan udara sejuk dan panorama alam yang memesona. 

​Sejarah dan Arsitektur

​Candi Ceto diperkirakan dibangun pada akhir era Majapahit, yaitu sekitar abad ke-15. Pembangunan candi ini sering dikaitkan dengan upaya pemulihan spiritual dan keagamaan setelah runtuhnya kerajaan tersebut. 

Arsitektur candi ini sangat khas, terdiri dari 13 teras berundak yang memanjang dari barat ke timur, menghadap ke Gunung Lawu. 

Tiap teras memiliki fungsi dan makna simbolis yang berbeda.

Dan di beberapa teras terdapat relief serta arca yang menggambarkan kisah-kisah mitologi Hindu, 

seperti Bima, dan sebagainya. Relief dan arca ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.


​Keunikan dan Daya Tarik

Salah satu daya tarik utama Candi Ceto adalah letak geografisnya yang strategis. Pemandangan dari ketinggian ini sangat menakjubkan, terutama saat matahari terbit atau terbenam.


Candi ini juga masih digunakan sebagai tempat peribadatan bagi umat Hindu, sehingga suasana spiritualnya sangat terasa. 

Selain itu, kompleks candi juga memiliki berbagai ornamen artistik.

Antara lain seperti patung-patung dan gerbang
yang terbuat dari batu, yang menambah nilai estetika dari candi tersebut.



Jumat, 24 Mei 2024

Keris Megantara Sang Penyibak Langit

Keris yg mempunyai bentuk "Khas" dan ber Luk 7 ini, Pertama kalinya dibuat  sekitar tahun 941 Saka oleh Empu Gandawisesa, lalu setelah sepeningglannya di kemudian hari di tiru oleh Empu2 hebat lainnya..
.
Nama Megantara sendiri berasal dari dua kata yaitu Mega dan Antara. 
Mega yang memiliki arti awan, sedangkan Antara memiliki makna luas tak terbatas.
Ada pula yg mengartikan sebagai "menyibak langit".
.
Dalam suatu pengertian lain, dhapur keris ini mempunyai makna bahwa seseorang yg dinyatakan pantas untuk memiliki keris ini haruslah seseorang yang hati dan pikirannya sudah "Menep", mempunyai hati yg lapang, Sabar, tenang dan berjiwa besar.
Tenang bagai pergerakan awan yg tak terlihat oleh mata awam, dan jiwa besar serta lapang bagaikan angkasa raya.
.
Sehingga dengan itu, diharapken seseorang yg memiliki keris ini mampu menjadi "manusia utama", yg mendapatken banyak hikmah baik dalam hidupnya.
.
Pusaka dapur Megantara ini merupakan keris dgn luk tujuh, yg juga maknanya "menyibak langit".
Kita pernah mendengar dalam istilah jawa "langit sap pitu", tempat tinggalnya para dewa dan bidadari.
Makna yg tersimpan, supaya sang pemilik keris ini dalam laku perbuatannya dan doa2nya selalu di lindungi dan di ridhoi oleh Sang Pencipta..
.
Mahakarya warisan leluhur yg sangat luar biasa..

By : Waskitapusaka

Rabu, 22 Mei 2024

Keris Panimbal Lambang Kepercayaan dan Pengabdian

Keris Panimbal Merupakan keris yg mempunyai Luk 9, dhapur keris yang satu ini selalu identik dengan Orang² khusus atau Abdi Dalem kepercayaan Atasan bahkan Kepercayaan Sang Raja pada era Kerajaan.
.
Menurut legenda, keris dhapur panimbal pertama kali di buat oleh Empu yg hebat bernama _Empu Dhomas_ sekitar tahun 1381 masih era kerajaan pastinya.
.
Dinamakan Panimbal karena seseorang yg memegang keris ini sering "Di Timbali" ( di panggil ) oleh Atasan / Raja, karena kecakapan dan kemampuan orang tersebut di percaya dapat mengemban Amanah / Tugas langsung dr Atasan / Raja yg sifatnya penting serta rahasia.
Dalam pengertian lain, Panimbal ( Pemanggil ) sendiri mempunyai maksud agar sang pemilik keris ini memiliki kelebihan dan kemampuan mudah menangkap ilmu pengetahuan / pesan2 / dan ajaran2, sehingga dapat menjadi seorang abdi yg cakap, cerdas, dan mumpuni yg akhirnya tampil sebagai orang kepercayaan Atasan / Raja.
.
Mungkin jika di implementasikan pada era republik ini, Seorang dengan keris Panimbal ini adalah Seorang yg Cakap, Cerdas, Terampil, Amanah, dan Bertanggungjawab dalam  dunia kerja sehingga di percaya dan di senangi oleh Atasan / Boss..
.
Maha karya yg Sangattt mantabbb dan luarrrr biasaaa...

By : Waskita Pusaka Solo

Candi Plaosan Lambang Toleransi dan Cinta Sejati

Jawa Tengah adalah salah satu privinsi di Pulau Jawa yang menyimpan jutaan sejarah tentang peradaban umat manusia. Betapa tidak, letaknya...